“Putin dan presiden planga-plongo” oleh Pipit Kartawidjaja

Dengan 77 persen perolehan suara, kembali terpilihnja Wladimir Putin pada ahad 18 maret sebagai presiden Rusia memang luar binasa. Satu kenaikan dibandingkan tahun 2012 (64,4 persen). Dalam dua kali pilpres sebelumnja, raupan suaranja pun setara: tahun 2000 (52,9 persen) dan tahun 2004 (71,3 persen). Antara tahun 2008 s/d 2012, harus istirahat, sebab setelah dua kali berturut-turut mresiden, menurut ketentuannja mesti langsir dulu. Bukan tjuma soal kemenangan Putin nan tak telak itu, tapi bagaimana Putin memerintah Rusia tampaknja menarik perhatian. Sampai2 Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon „berkitjau soal Indonesia butuh pemimpin seperti presiden Rusia Vladimir Putin, bukan jang banjak … Lanjutkan membaca “Putin dan presiden planga-plongo” oleh Pipit Kartawidjaja

“Surat perintah pembunuhan: antara Hitler dan harto” oleh Joss Wibisono

Artikel terbaru Jess Melvin dalam situs Indonesia at Melbourne menurunkan salah satu intisari terpenting bukunja The Army and the Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder (Tentara dan genosida Indonesia: mekanisme pembunuhan massal). Berikut dua alinea jang merupakan djantung artikel itu: It can now be revealed that Soeharto was much more active in consolidating his position and operating independently of Soekarno. New documentary evidence indicates Soeharto sent telegrams to regional military commanders on the morning of 1 October in his assumed position of Armed Forces commander, declaring that a coup – led by the 30 September Movement – had occurred in … Lanjutkan membaca “Surat perintah pembunuhan: antara Hitler dan harto” oleh Joss Wibisono

“Menunda perdjuwangan Indonesia merdeka: orang Indonesia melawan fasisme di Belanda (1940-1945)” oleh Emile Schwidder

Versi lain artikel ini jang ditulis dalem EYD telah terbit pada jurnal Prisma edisi Vol. 36, No. 3. 2017, halaman 82-87. Artikel ini merupakan salah satu bab dalam buku Vertrouwd en vreemd: ontmoetingen tussen Nederland, Indië en Indonesië, (Hilversum: Verloren, 2000) Esther Captain, Marieke Hellevoort dan Marian van der Klein (redaksi).   Ketika populisme kanan berkuasa di Eropa pada masa Perang Dunia Kedua, tidak sedikit orang Indonesia melibatkan diri dalam perlawanan terhadapnja. Membagi orang2 Indonesia jang pada waktu itu berada di Belanda (jang diduduki nazi) dalam empat kelompok, Emile Schwidder dalam artikel ini lebih menjoroti peran kaum perempuan. Maklum, peran … Lanjutkan membaca “Menunda perdjuwangan Indonesia merdeka: orang Indonesia melawan fasisme di Belanda (1940-1945)” oleh Emile Schwidder

“‘Broederliefde’: Kehangatan kakak beradik Vincent dan Theo van Gogh” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan dan dalem edjaan orde bau bisa dibatja di sini. Perubahan terbesar dalam hidup Vincent van Gogh (1853-1890) diawali oleh usul adiknja, Theo van Gogh (1857-1891). Theolah jang men-dorong2 kakaknja supaja mendjadi seniman perupa. Selandjutnja, dalam hidup Vincent jang serba kekurangan, Theo selalu tampil sebagai adik jang penuh pengertian. Mengapa Theo membiajai hidup kakaknja? Adakah si adik punja intuisi masa depan, atau dia tjuma terdorong oleh tjinta pada kakak? Sebagai anak sulung, Vincent van Gogh dibesarkan dalam keluarga pendeta, bersama lima orang adiknja, dua laki2 dan tiga perempuan. Vincent dan adik2nja dididik dalam norma kelas menengah Belanda abad 19: … Lanjutkan membaca “‘Broederliefde’: Kehangatan kakak beradik Vincent dan Theo van Gogh” oleh Joss Wibisono

“La presse indonésienne: est-elle réellement critique et impartiale?” par Joss Wibisono

Conférence tenue le 12 janvier 2018 lors de la présentation de l’ultime numéro de la revue Le Banian. De nos jours, la presse indonésienne est libre et jouit de bien plus de liberté que son homologue des Philippines, où les journalistes risquent leur vie dans l’exercice de leur travail. Cependant, on a tendance à oublier que cette situation dure depuis moins de vingt-cinq ans. Auparavant, surtout pendant le régime autoritaire de Suharto, la presse indonésienne était considérée comme l’une des plus censurées et des plus corrompues d’Asie du Sud-Est, voire du monde. Ma génération a accédé à la conscience politique … Lanjutkan membaca “La presse indonésienne: est-elle réellement critique et impartiale?” par Joss Wibisono

“Delapan komponis di penitipan sepeda” oleh Joss Wibisono

Di negeri jang penduduknja kebanjakan bersepeda seperti Belanda, si bekas pendjadjah itu, penitipan sepeda djelas merupakan fasilitas penting di pelbagai stasiun. Maklum, selain bersepeda jang digunakan di dalam kota, warga Belanda kebanjakan djuga menggunakan kereta api kalau bepergian ke kota lain. Untuk berangkat ke luar kota, seseorang akan bersepeda dulu ke stasiun di kotanja, menitipkan sepeda di stasiun itu, baru kemudian naik kereta api untuk sampai pada kota tudjuan. Tidak djarang pula, ketika tiba di kota tudjuan, jang bersangkutan kemudian bersepeda lagi ke tempat tudjuannja. Waktu dulu masih bekerdja di Radio Nederland Siaran Indonesia (Ranesi), aku selalu bersepeda ke stasiun … Lanjutkan membaca “Delapan komponis di penitipan sepeda” oleh Joss Wibisono

“Berdialektika immaterialis dengan Prantjis” oleh Joss Wibisono

Klow lebih demen batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Sopir, toilet, trotoir dan bangkrut: apa persamaan empat kata itu? Harap djangan kaget: keempatnja sekedar tjontoh kata2 Prantjis jang kita serap masuk ke dalam bahasa Indonesia. Dua jang di tengah masih mirip aslinja, orang Prantjis mengedja keduanja sebagai toilettes dan trottoir dan melafalkan oi sebagai oa. Dua jang lain sudah kita ubah dalam edjaan sendiri, karena sopir dalam bahasa Prantjis adalah chauffeur dan mereka mengedja bangkrut sebagai banqueroute. Bagaimana mungkin kita bisa menjerap bahasa ini? Bukankah —lain dari Indochine (sekarang Vietnam, Laos atau Kambodja)— kita tidak pernah didjadjah Prantjis? … Lanjutkan membaca “Berdialektika immaterialis dengan Prantjis” oleh Joss Wibisono