“Nama djalan2 Belanda: kenapa tak ada Soekarnostraat?” oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu jang lebih pendekan telah nongol di Tirto.id Selain nama pulau2, gunung2 dan sungai2 Nusantara, djalan2 di kota2 Belanda si bekas pendjadjah djuga ada jang menggunakan nama pahlawan2 kita. Djadi, selain Javastraat atau Sumatrastraat, djuga ada Brantasgracht dan Semerustraat, tapi jang terpenting ada pula R.A. Kartinistraat, Sutan Sjahrirstraat atau Mohamed Hattastraat. Harap diingat: straat (djalan), gracht (kanal), singel (parit) atau plein (alun2/plaza) selalu harus digabung dengan nama orang, atau pulau, atau sungai jang merupaken namanja. Pantang dipisah. Begitulah tata bahasa Belanda jang pasti berbeda dengen tata bahasa Inggris jang memang memisahkan nama dari djalan. Di sini harap menulis setjara … Lanjutkan membaca “Nama djalan2 Belanda: kenapa tak ada Soekarnostraat?” oleh Joss Wibisono

“Talen in Indonesië: geen vernederlandsing, wel verengelsing” door Joss Wibisono

Een eerdere versie van dit artikel is reeds verschenen in Ons Erfdeel No 4 november 2018 Er is één ontwikkeling in de Indonesische taal die zo wijdverbreid is dat het me dwarszit en me ongemakkelijk maakt. Het is de vermenging van de nationale taal met het Engels. Toegegeven, dit is niet nieuw. Sinds de jaren tachtig van de vorige eeuw doen mensen dit al. In die tijd was het aantal mensen dat de taal mixte nog klein en elke keer als er Engelse woorden of termen werden ingevoerd voelden de gebruikers meestal nog een behoefte om het in het Indonesisch … Lanjutkan membaca “Talen in Indonesië: geen vernederlandsing, wel verengelsing” door Joss Wibisono

“Pas de néerlandisation, mais une anglicisation: les langues en Indonésie” par Joss Wibisono

Les indonésiens sont extrêmement susceptibles quand il s’agit de leur territoire, mais n’ont jamais éprouvé le besoin de se battre pour leur propre langue. Néanmoins, le néerlandais n’a jamais réussi à s’imposer dans les anciennes indes néerlandaises. Une évolution de la langue indonésienne me chiffonne et me met mal à l’aise, il s’agit du mélange avec l’anglais. Au cours des quarante dernières années, de plus en plus de mots et d’expressions anglais ont été introduits, mais on éprouve moins le besoin de les transposer en indonésien. Les personnes que je qualifie d’anglicisées (keminggris en javanais) sont de plus en plus … Lanjutkan membaca “Pas de néerlandisation, mais une anglicisation: les langues en Indonésie” par Joss Wibisono

“Mengagumi kekaguman Benedict Anderson terhadap José Rizal” oleh Joss Wibisono

Versi sedikit lain nongol Tirto, untuk mengenang tiga tahun kepergian Benedict Anderson. Awal desember 2017, mendjelang dua tahun kepergian Benedict Anderson, kudjeladjahi internet dan kudapati bahwa Noli me tángere, novel pertama José Rizal (1861-1896), bapak bangsa Filipina, ternjata sudah diterdjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Penerdjemahnja bernama A. A. Fokker. Memang tidak ditegaskan dari bahasa apa terdjemahan ini dilakukan: apakah langsung dari bahasa Spanjol atau dari bahasa lain. Menilik beberapa tjatetan kaki dan tjara pelafalan jang tertjantum pada beberapa tjatetan kaki itu, bisalah dipastikan bahwa penerdjemahan itu dilakukan dari bahasa Spanjol, bahasa novel itu ditulis. Sebenernja ini tidaklah begitu mengheranken, maklum … Lanjutkan membaca “Mengagumi kekaguman Benedict Anderson terhadap José Rizal” oleh Joss Wibisono

“Seribu hari kepergian Ben Anderson” oleh Joss Wibisono

Tiga tahun berlalu sedjak dikau menghadep sang Chalik, mengachiri 25 tahun persahabatan kita. Tiga tahun atau sekitar seribu hari merupaken peringatan terachir jang dilakuken orang Djawa untuk mengenang mereka jang ‘berangkat duluan’ (mestinja peringatan seribu hari kepergianmu sudah harus dilakukan awal september lalu). Sebelum itu orang Djawa sudah harus empat kali mengenang handai tolan jang berpulang: pada hari ketiga, ketudjuh, keempatpuluh dan keseratus kepergiannja. Tradisi Djawa ini sengadja kusebut, walaupun sekarang kuikuti langkahmu bertamasja ke utara, ke negerinja Lolo José. Di achir hidup memang perhatianmu lebih terpusat ke Filipina, padahal kau sudah boleh dateng lagi ke tanah air, tjinta pertamamu. … Lanjutkan membaca “Seribu hari kepergian Ben Anderson” oleh Joss Wibisono

“Laporan komite hadiah pangeran Claus 2018: Eka Kurniawan • Indonesia • sastra”

Terjemahan ini berdasarkan versi bahasa Inggris jang bisa dirudjuk di sini. Eka Kurniawan (1975, Tasikmalaja, Djawa Barat) adalah penulis jang, dalam fiksi menarik, mendjeladjahi komplexnja sedjarah mutachir Indonesia. Menulis skripsi sardjana filsafat tentang penulis besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer, Kurniawan meninggalkan realisme sosialis dan mengembangkan sendiri gaja menulis inovatif untuk menggapai kenjataan jang peka dan sering traumatis sehingga mendjadi relevan dan bisa dipahami pembatja luas. Ia menggabungkan unsur2 pelbagai aliran sastra dan pengaruh, termasuk tjerita rakjat, sedjarah lisan, pewajangan, pentjak silat dan komik horor serta realisme magis, untuk menggambarkan pengalaman orang jang njata dan ber-lapis2. Dengan ketjerdasan sedjarah mendalam, penuturan … Lanjutkan membaca “Laporan komite hadiah pangeran Claus 2018: Eka Kurniawan • Indonesia • sastra”

“‘Wesel Pos’ dan keberpihakan Ratih Kumala” oleh Joss Wibisono

Dibatjaken di Leiden pada sabtu sore 29 september 2018 wektu pengluntjuran Wesel Pos karja Ratih Kumala Terus terang jach, saja merasa gamang ketika mulai membatja Wesel Pos, novel pendek Ratih Kumala ini. Bukan karena pendeknja, tapi karena tjeritanja. Seorang gadis dari Purwodadi, kota ketjil di wilajah timur Djawa Tengah, datang ke Djakarta untuk pertama kalinja dalam rangka mendjenguk kakaknja, padahal sudah lama sekali dia tidak berhubungan dengan si kakak. Pasti ini sebuah perdjalanan untuk menemui nasib malang, gadis ini pasti akan ditimpa malapetaka. Demikian praduga jang segera meliputi saja. Sampul depan novel pendek Wesel Pos Saja bukan seorang pembatja jang … Lanjutkan membaca “‘Wesel Pos’ dan keberpihakan Ratih Kumala” oleh Joss Wibisono