“Rumah perlawanan” oleh Joss Wibisono

Achir pekan jang baru lewat (awal mei 2019), Belanda si bekas pendjadjah memperingati 74 tahun pembebasannja dari pendudukan nazi Djerman selama Perang Dunia Kedua. Setiap 4 mei dikenang mereka jang gugur semasa pendudukan dan setiap 5 mei diperingati kapitulasi nazi jang berarti pembebasan negeri kintjir angin dari pendudukan fasisme. Salah satu atjara jang menarik dan sering aku hadiri adalah pembukaan untuk umum rumah2 orang Jahudi atau rumah2 tempat berlangsungnja perlawanan terhadap pendudukan kalangan fasis itu. Atjara itu dinamai “Open Joodse Huizen van Verzet” alias buka rumah Jahudi, rumah perlawanan. Rumah Jahudi adalah rumah2 jang dulu ditempati oleh orang2 Jahudi, salah … Lanjutkan membaca “Rumah perlawanan” oleh Joss Wibisono

“Nama djalan2 Belanda: kenapa tak ada Soekarnostraat?” oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu jang lebih pendekan telah nongol di Tirto.id Selain nama pulau2, gunung2 dan sungai2 Nusantara, djalan2 di kota2 Belanda si bekas pendjadjah djuga ada jang menggunakan nama pahlawan2 kita. Djadi, selain Javastraat atau Sumatrastraat, djuga ada Brantasgracht dan Semerustraat, tapi jang terpenting ada pula R.A. Kartinistraat, Sutan Sjahrirstraat atau Mohamed Hattastraat. Harap diingat: straat (djalan), gracht (kanal), singel (parit) atau plein (alun2/plaza) selalu harus digabung dengan nama orang, atau pulau, atau sungai jang merupaken namanja. Pantang dipisah. Begitulah tata bahasa Belanda jang pasti berbeda dengen tata bahasa Inggris jang memang memisahkan nama dari djalan. Di sini harap menulis setjara … Lanjutkan membaca “Nama djalan2 Belanda: kenapa tak ada Soekarnostraat?” oleh Joss Wibisono

“Talen in Indonesië: geen vernederlandsing, wel verengelsing” door Joss Wibisono

Een eerdere versie van dit artikel is reeds verschenen in Ons Erfdeel No 4 november 2018 Er is één ontwikkeling in de Indonesische taal die zo wijdverbreid is dat het me dwarszit en me ongemakkelijk maakt. Het is de vermenging van de nationale taal met het Engels. Toegegeven, dit is niet nieuw. Sinds de jaren tachtig van de vorige eeuw doen mensen dit al. In die tijd was het aantal mensen dat de taal mixte nog klein en elke keer als er Engelse woorden of termen werden ingevoerd voelden de gebruikers meestal nog een behoefte om het in het Indonesisch … Lanjutkan membaca “Talen in Indonesië: geen vernederlandsing, wel verengelsing” door Joss Wibisono

“Pas de néerlandisation, mais une anglicisation: les langues en Indonésie” par Joss Wibisono

Les indonésiens sont extrêmement susceptibles quand il s’agit de leur territoire, mais n’ont jamais éprouvé le besoin de se battre pour leur propre langue. Néanmoins, le néerlandais n’a jamais réussi à s’imposer dans les anciennes indes néerlandaises. Une évolution de la langue indonésienne me chiffonne et me met mal à l’aise, il s’agit du mélange avec l’anglais. Au cours des quarante dernières années, de plus en plus de mots et d’expressions anglais ont été introduits, mais on éprouve moins le besoin de les transposer en indonésien. Les personnes que je qualifie d’anglicisées (keminggris en javanais) sont de plus en plus … Lanjutkan membaca “Pas de néerlandisation, mais une anglicisation: les langues en Indonésie” par Joss Wibisono

“Mengagumi kekaguman Benedict Anderson terhadap José Rizal” oleh Joss Wibisono

Versi sedikit lain nongol Tirto, untuk mengenang tiga tahun kepergian Benedict Anderson. Awal desember 2017, mendjelang dua tahun kepergian Benedict Anderson, kudjeladjahi internet dan kudapati bahwa Noli me tángere, novel pertama José Rizal (1861-1896), bapak bangsa Filipina, ternjata sudah diterdjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Penerdjemahnja bernama A. A. Fokker. Memang tidak ditegaskan dari bahasa apa terdjemahan ini dilakukan: apakah langsung dari bahasa Spanjol atau dari bahasa lain. Menilik beberapa tjatetan kaki dan tjara pelafalan jang tertjantum pada beberapa tjatetan kaki itu, bisalah dipastikan bahwa penerdjemahan itu dilakukan dari bahasa Spanjol, bahasa novel itu ditulis. Sebenernja ini tidaklah begitu mengheranken, maklum … Lanjutkan membaca “Mengagumi kekaguman Benedict Anderson terhadap José Rizal” oleh Joss Wibisono

“Seribu hari kepergian Ben Anderson” oleh Joss Wibisono

Tiga tahun berlalu sedjak dikau menghadep sang Chalik, mengachiri 25 tahun persahabatan kita. Tiga tahun atau sekitar seribu hari merupaken peringatan terachir jang dilakuken orang Djawa untuk mengenang mereka jang ‘berangkat duluan’ (mestinja peringatan seribu hari kepergianmu sudah harus dilakukan awal september lalu). Sebelum itu orang Djawa sudah harus empat kali mengenang handai tolan jang berpulang: pada hari ketiga, ketudjuh, keempatpuluh dan keseratus kepergiannja. Tradisi Djawa ini sengadja kusebut, walaupun sekarang kuikuti langkahmu bertamasja ke utara, ke negerinja Lolo José. Di achir hidup memang perhatianmu lebih terpusat ke Filipina, padahal kau sudah boleh dateng lagi ke tanah air, tjinta pertamamu. … Lanjutkan membaca “Seribu hari kepergian Ben Anderson” oleh Joss Wibisono

“Waarom ik historische fictie schrijf” door Joss Wibisono

Dit is mijn bidrage aan de discussie gepeperd verleden nummer 5. Tijdens mijn vakantie in Burma, in april 2016, vatte ik het plan op om een verhaal te schrijven over een voormalige slaaf (tot slaaf gemaakte moet ik eigenlijk zeggen) die carrière maakt in het 19e eeuwse Amsterdam. Ik was zo gefascineerd door het verhaal van Wange Richard van Bali, dat ik op dat moment las in het boek van Reggie Baay getiteld Daar werd wat gruwelijks verricht, over slavernij in Nederlands-Indië. Ik had net een verhaal klaar over Indonesische studenten in bezet Amsterdam dat ik vanuit Yangoon (de hoofdstad … Lanjutkan membaca “Waarom ik historische fictie schrijf” door Joss Wibisono